Poin utama:
- IHSG ditutup di 6.365,37 (-0,69%) pada 10 Agustus 2026.
- Total nilai transaksi sebesar Rp 16,11 triliun dengan 837 emiten aktif.
- Aliran dana asing bersih seluruh pasar keluar Rp -855,66 miliar.
- DSSA memimpin net buy asing sebesar Rp 95,63 miliar.
- TPIA menjadi saham paling ramai dengan nilai transaksi Rp 1,44 triliun.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di 6.365,37 pada pukul 17.30 WIB, Senin 10 Agustus 2026, bukan angka penutupan resmi, sedangkan penutupan resmi terakhir tanggal 10 Agustus 2026 mencatat IHSG turun 44,28 poin (-0,69%). Total nilai transaksi saat itu mencapai Rp 16,11 triliun dengan 837 emiten aktif.
Ringkasan Cepat
- IHSG ditutup di 6.365,37 pada 10 Agustus 2026, turun 44,28 poin (-0,69%) dari penutupan sebelumnya.
- Total nilai transaksi sebesar Rp 16,11 triliun dengan 306 saham naik, 340 turun, dan 837 emiten aktif.
- Aliran dana asing bersih seluruh pasar keluar sebesar Rp -855,66 miliar pada 10 Agustus 2026.
- DSSA memimpin net buy asing sebesar Rp 95,63 miliar, diikuti MDKA Rp 73,86 miliar dan TINS Rp 73,17 miliar.
- TPIA menjadi saham paling ramai dengan nilai transaksi Rp 1,44 triliun, diikuti DSSA Rp 1,28 triliun dan BUMI Rp 856,55 miliar.
Aliran Dana Asing Keluar Rp -855,66 Miliar Sepanjang Sesi
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia mencatat arus dana asing bersih seluruh pasar negatif Rp -855,66 miliar pada 10 Agustus 2026. Kondisi ini berarti investor asing melakukan aksi jual bersih sepanjang sesi perdagangan meskipun aktivitas pasar tetap tinggi dengan nilai transaksi Rp 16,11 triliun.
DSSA atau Dian Swastatika Sentosa Tbk menjadi sasaran net buy asing terbesar dengan nilai Rp 95,63 miliar, diikuti MDKA Merdeka Copper Gold Tbk sebesar Rp 73,86 miliar dan TINS TIMAH (Persero) Tbk Rp 73,17 miliar.
Posisi keempat hingga kesepuluh diisi oleh BBCA Bank Central Asia Tbk (Rp 71,56 miliar), PSAB J Resources Asia Pasifik Tbk (Rp 47,28 miliar), MDIA Intermedia Capital Tbk (Rp 25,14 miliar), BBNI Bank Negara Indonesia Tbk (Rp 23,65 miliar), ESSA ESSA Industries Indonesia Tbk (Rp 20,17 miliar), ARKO Arkora Hydro Tbk (Rp 14,02 miliar), dan ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (Rp 13,60 miliar).
Sementara itu, tekanan jual asing terbesar datang dari TPIA Chandra Asri Pacific Tbk yang mencatat net sell sebesar Rp -354,98 miliar, disusul BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan Rp -300,35 miliar, TLKM Telkom Indonesia (Persero) Tbk Rp -125,24 miliar, ASII Astra International Tbk Rp -92,02 miliar, dan BBRI Bank Rakyat Indonesia Tbk Rp -56,53 miliar. Emiten-emiten besar di sektor keuangan dan infrastruktur menjadi sasaran utama penjualan asing.
Saham Paling Ramai Berdasarkan Nilai Transaksi
Berdasarkan nilai transaksi, TPIA Chandra Asri Pacific Tbk menempati peringkat pertama dengan Rp 1,44 triliun, diikuti DSSA Rp 1,28 triliun. Peringkat ketiga hingga kesepuluh diisi oleh BUMI, BBRI, BMRI, BBCA, IATA, DEWA, BRPT, dan AMMN.
Nilai transaksi tinggi pada TPIA dan DSSA mencerminkan perhatian besar pasar terhadap emiten tersebut. TPIA mencatat nilai transaksi Rp 1,44 triliun meskipun harganya turun 4,93%, sementara DSSA naik 1,03% di harga penutupan Rp 985.
Kedua saham ini juga muncul di posisi berbeda pada daftar net buy asing. TPIA menjadi objek penjualan bersih asing terbesar, sementara DSSA menjadi tujuan pembelian asing terbesar. Fenomena ini menunjukkan adanya perbedaan strategi antara investor asing dan investor domestik pada 10 Agustus 2026.
Pergerakan Saham Naik dan Turun di Tengah Tekanan Asing
Dari 837 emiten aktif diperdagangkan pada 10 Agustus 2026, tercatat 306 saham naik, 340 turun, dan 191 lainnya mengalami stagnansi. Rasio ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung bearish di tengah tekanan aliran dana asing keluar sebesar Rp -855,66 miliar.
Kenaikan terbesar terjadi di IATA Karya Pacific Energy Tbk yang naik 12,17% ke harga Rp 129, disusul PSAB J Resources Asia Pasifik Tbk naik 11,47% ke Rp 515, ARKO Arkora Hydro Tbk naik 9,27% ke Rp 4.950, ESSA ESSA Industries Indonesia Tbk naik 7,87% ke Rp 685, dan MDIA Intermedia Capital Tbk naik 6,09% ke Rp 244.
Penurunan terbesar terlihat pada TPIA Chandra Asri Pacific Tbk yang turun 4,93% ke Rp 2.120, disusul BRPT Barito Pacific Tbk turun 3,63% ke Rp 1.860, TLKM Telkom Indonesia (Persero) Tbk turun 3,32% ke Rp 2.620, ASII Astra International Tbk turun 1,96% ke Rp 5.000, dan CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk turun 1,91% ke Rp 3.080.
Di sektor perbankan, BMRI turun 1,42% ke Rp 4.180 dan BBRI turun 1,28% ke Rp 3.090, sementara BBCA bergerak flat di Rp 6.375. Saham ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk juga turun 1,94% ke Rp 7.600.
Kapitalisasi Pasar dan Likuidositas
Kapitalisasi pasar pada penutupan resmi 10 Agustus 2026 tercatat sebesar Rp 11.131,11 triliun. IHSG bergerak dalam rentang hari antara 6.362,76 sebagai level terendah dan 6.462,74 sebagai level tertinggi, menunjukkan fluktuasi sebesar 99,98 poin selama satu sesi perdagangan.
Nilai transaksi Rp 16,11 triliun menunjukkan likuiditas yang cukup tinggi, terutama di kelompok saham besar seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan TPIA. Likuiditas tinggi biasanya mencerminkan partisipasi investor yang kuat, meski dalam kasus ini didominasi oleh aksi jual asing yang lebih besar dari pembelian.
Sektor yang Mendominasi Perdagangan
Sektor keuangan mendominasi daftar saham teramai dengan kehadiran BBRI, BMRI, dan BBCA. Ketiga saham bank besar ini mencatat nilai transaksi gabungan sebesar Rp 1.916,90 miliar atau sekitar 11,89% dari total nilai transaksi pasar Rp 16,11 triliun.
Sektor pertambangan dan energi juga kuat diwakili oleh TPIA, BUMI, BRPT, dan AMMN dengan nilai transaksi gabungan lebih dari Rp 3 triliun. Sektor ini menjadi incaran utama investor asing maupun domestik karena faktor komoditas global.
Sektor consumer goods hanya diwakili oleh ICBP dengan nilai transaksi Rp 51,92 miliar, sementara sektor infrastruktur dan properti tampil lewat MDIA dan DEWA. Konsentrasi likuiditas di sektor keuangan dan pertambangan menunjukkan alokasi modal yang ketat di kelompok tersebut.
Dengan total transaksi Rp 16,11 triliun, pasar menunjukkan bahwa modal tetap mengalir meski arah arus asing negatif. Tingginya transaksi saham keuangan dan pertambangan menandakan adanya reposisi portofolio antar aset di dalam pasar domestik.
| Kode | Nama Emiten | Close (Rp) | % | Nilai Transaksi |
|---|---|---|---|---|
| TPIA | Chandra Asri Pacific Tbk. | 2.120 | -4,93% | Rp 1,44 T |
| DSSA | Dian Swastatika Sentosa Tbk | 985 | 1,03% | Rp 1,28 T |
| BUMI | Bumi Resources Tbk. | 187 | 0,00% | Rp 856,55 M |
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. | 3.090 | -1,28% | Rp 724,68 M |
| BMRI | Bank Mandiri (Persero) Tbk. | 4.180 | -1,42% | Rp 625,39 M |
| BBCA | Bank Central Asia Tbk. | 6.375 | 0,00% | Rp 566,83 M |
| IATA | Karya Pacific Energy Tbk. | 129 | 12,17% | Rp 449,99 M |
| DEWA | Darma Henwa Tbk | 474 | -0,84% | Rp 440,07 M |
| BRPT | Barito Pacific Tbk. | 1.860 | -3,63% | Rp 392,86 M |
| AMMN | Amman Mineral Internasional Tbk. | 4.370 | -0,68% | Rp 377,34 M |
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang menyebabkan IHSG melemah pada 10 Agustus 2026?
IHSG turun 44,28 poin (-0,69%) ke level 6.365,37 pada penutupan resmi 10 Agustus 2026, dengan tekanan utama dari aliran dana asing bersih keluar sebesar Rp -855,66 miliar. Beberapa saham besar seperti BMRI, TLKM, dan ASII juga mengalami penurunan yang memberikan tekanan pada indeks.
Siapa yang mendapatkan dana asing masuk terbesar?
DSSA menjadi penerima net buy asing terbesar sebesar Rp 95,63 miliar pada 10 Agustus 2026, diikuti MDKA sebesar Rp 73,86 miliar dan TINS sebesar Rp 73,17 miliar. Ketiganya berada di sektor pertambangan dan infrastruktur yang tetap mendapat perhatian arus dana luar negeri meski pasar umum melemah.
Apakah ada anjakan beli atau jual dari analis?
Artikel ini hanya menyajikan data perdagangan dari Bursa Efek Indonesia tanpa rekomendasi investasi atau nasihat keuangan. Keputusan beli atau jual sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor sesuai profil risiko masing-masing. Selalu periksa laporan keuangan emiten dan kondisi makro sebelum mengambil keputusan.
Metodologi dan Sumber Data
Data diperoleh dari IDX Stock Summary dan Trading Summary per 10 Agustus 2026. Semua angka diambil dari rangkuman perdagangan resmi Bursa Efek Indonesia. Net buy asing dihitung dari total transaksi pembelian dikurangi penjualan asing per emiten.
Data pukul 17.30 WIB adalah angka terkini sesi, bukan penutupan resmi. Artikel ini tidak mengidentifikasi bandar atau sekuritas tertentu karena IDX tidak merilis data tersebut.
Disclaimer: Artikel ini hanya berisi laporan data pasar dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Setiap keputusan investasi mengandung risiko. Investor disarankan untuk melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen sebelum mengambil keputusan.
Baca juga
- IHSG Melemah 0,69% di Sesi Kedua, FORU Tertekan Paling Dalam -15%
- The Next Multi Bagger Cepat Tahun Ini, Induk Sudah Naik 50% Dalam Seminggu, Pengendali Masih Akumulasi Saham Ini
- IHSG Melemah 0,49% ke 6.378,40; DEWA Pimpin Nilai Transaksi Saat Ini
- Megaproyek AI Batam: Nvidia & Firmus Kebut ‘Pabrik AI’ 170.000 GPU, Episentrum Data Center Baru Asia Tenggara!
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi Bursa Efek Indonesia (IDX) untuk perdagangan 10 Agustus 2026, diolah redaksi Info A1. Artikel disusun otomatis dari data pasar dan ditinjau ulang berdasarkan aturan editorial infoa1.org.
