Poin utama:
- IHSG berada di 6.525,48 (+0,11%) pukul 16:20 WIB, tertunda 10 menit.
- Delapan saham tertekan: DWGL -14,97%, RGAS -14,95%, TMPO -14,81%.
- Nilai transaksi 400 saham teratas Rp 21,29 triliun dengan 222 naik dan 130 turun.
- Net asing seluruh pasar Rp -423,24 miliar.
- BBCA memimpin nilai transaksi Rp 1,50 triliun.
Indeks Harga Saham Gabungan berada di 6.525,48 (naik 7,36 poin atau +0,11%) pukul 16:20 WIB, 31 Agustus 2026, data tertunda sekitar 10 menit dan bukan penutupan resmi. Penutupan resmi terakhir adalah 6.518,12 (-0,06%) pada 28 Agustus 2026. Delapan saham tertekan terdalam — DWGL, RGAS, dan TMPO — menandai sesi kedua.
Ringkasan Cepat
- IHSG berada di 6.525,48 (+0,11% atau +7,36 poin) pukul 16:20 WIB, data tertunda sekitar 10 menit dan bukan penutupan resmi.
- Delapan saham tertekan terdalam: DWGL -14,97%, RGAS -14,95%, TMPO -14,81%, TCPI -9,80%, BAPA -9,20%, MAPI -6,35%, HRTA -5,15%, dan MPIX -5,08%.
- Nilai transaksi 400 saham teratas mencapai Rp 21,29 triliun dengan 222 saham naik dan 130 turun dari total 400 dipantau.
- Total nilai transaksi seluruh pasar tercatat Rp 14,33 triliun, dengan net asing sebesar Rp -423,24 miliar dari 833 saham aktif.
- Penutupan resmi terakhir 28 Agustus 2026 mencatat IHSG 6.518,12 (-0,06%) dengan 290 saham naik dan 348 turun.
Pelemahan Terdalam di Sesi Kedua
Sesi perdagangan kedua, 31 Agustus 2026, mencatat delapan saham dengan penurunan harga paling dalam yang terukir dalam grafik pelemahan sesi berjalan pukul 16:20 WIB. PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) anjlok -14,97% ke harga Rp 250 dengan nilai transaksi Rp 15,87 miliar dari sektor Energy Minerals. PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) melemah -14,95% ke Rp 165 dari sektor Industrial Services, sementara PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) turun -14,81% ke Rp 184 dari Consumer Services.
PT Transcoal Pacific (TCPI) tertembus -9,80% ke Rp 2.210 dari sektor Transportation, diikuti PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) -9,20% ke Rp 158 dari Consumer Durables. Penurunan lanjut tercatat pada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) -6,35% ke Rp 1.400 dari Retail Trade, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) -5,15% ke Rp 2.210 dari Consumer Durables, dan PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPIX) -5,08% ke Rp 112 dari Commercial Services.
Meskipun delapan saham tersebut tertekan secara signifikan, indeks broader masih bertahan di zona positif. Indeks LQ45 berada di 643,83 (+0,31%), IDX30 di 360,38 (+0,41%), dan KOMPAS100 di 851,61 (+0,40%). Sektor finance mendominasi pergerakan dengan BBCA, BBRI, dan BMRI yang menjaga likuiditas pasar. EMAS dari sektor Non-Energy Minerals menguat +3,23% ke Rp 9.600, memberikan dukungan dari sektor komoditas.
Saham Paling Likuid dan Peran Sektor Finance
BBCA memimpin nilai transaksi sebesar Rp 1,50 triliun di harga Rp 6.475, meskipun fluktuasi 0,00%. BBRI menguat 1,88% ke Rp 3.250 dengan nilai Rp 1,15 triliun, dan BMRI turun 0,47% ke Rp 4.230 dengan nilai Rp 978,64 miliar. Ketiga saham bank tersebut menyerap lebih dari Rp 3,62 triliun nilai transaksi, menunjukkan bahwa sektor finance tetap menjadi poros likuiditas utama pasar.
KOTA melonjak +34,16% ke Rp 216 dengan nilai Rp 827,10 miliar, menjadi top gainer sesi ini dan menandakan seleksi harga yang tajam di sektor finance. SRSN menguat +31,08% ke Rp 97 dengan nilai Rp 65,35 miliar dari sektor Consumer Non-Durables. ASLI naik +25,00% ke Rp 310 dengan nilai Rp 36,57 miliar dari Industrial Services, dan FORU melonjak +24,62% ke Rp 2.480 dengan nilai Rp 7,92 miliar dari Commercial Services.
KICI menguat +24,37% ke Rp 296 dengan nilai Rp 25,23 miliar dari Consumer Durables, dan LEAD naik +18,00% ke Rp 118 dengan nilai Rp 13,45 miliar dari Industrial Services. CSMI melonjak +17,31% ke Rp 183 dengan nilai Rp 29,62 miliar dari Consumer Services. Pergerakan ini menunjukkan bahwa saham menengah menengah menikmati volume speculatif tanpa menghilangkan fokus dari saham besar.
Sebaran Pasar dan Tekanan Asing
Total nilai transaksi seluruh pasar tercatat Rp 14,33 triliun. Dari 833 saham aktif, 290 naik dan 348 turun pada penutupan resmi terakhir 28 Agustus 2026. Di antara 400 saham terpantau pada pukul 16:20 WIB, tercatat 222 saham naik dan 130 turun dengan nilai transaksi gabungan Rp 21,29 triliun, mengonfirmasi konsentrasi likuiditas di saham besar.
Net asing seluruh pasar tercatat negatif sebesar Rp -423,24 miliar. Tekanan jual asing terjadi meski saham domestik secara umum menunjukkan lebih banyak kenaikan daripada penurunan dari 400 saham terpantau. Tekanan ini terutama menyentuh sektor Energy Minerals dan Industrial Services yang melemahkan DWGL, RGAS, dan TCPI, tetapi tidak cukup menekan IHSG ke bawah.
Dengan nilai transaksi seluruh pasar Rp 14,33 triliun, tekanan asing sebesar Rp -423,24 miliar memang terasa, tetapi fokus investor domestik tampak tetap pada saham finance dan komoditas. Kinerja BBCA, BBRI, dan EMAS menunjukkan bahwa arus modal lokal cukup kuat untuk menutupi tekanan asing di sektor tertekan.
Indeks Pendamping dan Gambaran Pasar Luas
Selain IHSG, indeks-indeks pendamping juga berada di zona positif pada pukul 16:20 WIB. LQ45 berada di 643,83 (+2,00 poin atau +0,31%), IDX30 di 360,38 (+1,47 poin atau +0,41%), dan KOMPAS100 di 851,61 (+3,39 poin atau +0,40%). Indeks pendamping ini menandakan bahwa saham unggulan dengan kapitalisasi besar secara umum menguat, meskipun delapan saham tertekan terdalam membentuk grup terpisah.
LQ45 dan IDX30 mencakup 45 dan 30 saham likuid terbesar yang membobot signifikan dalam perhitungan IHSG. Kinerja positif kedua indeks tersebut menjelaskan mengapa IHSG bisa bertahan di atas 6.525 meski delapan saham tertekan. Investor institusi dan asing masih tertarik pada saham berkualitas tinggi dengan arus likuiditas besar.
Kontekstualisasi Pasar dan Pencarian Publik
Berdasarkan Google Trends Daily Search Trends untuk Indonesia pada 31 Agustus 2026, tidak ada topik trending yang menyangkut pasar modal hari ini. Pencarian yang trending bergerak di ranah narkotika, kasus Ibrahim Arief, JKN, debat politik, laga Indonesia vs Malaysia U-20, dan kasus penipuan Ruben Onsu, sehingga tidak ada korelasi pencarian publik yang mempengaruhi dinamika saham saat ini.
Pasar modal beroperasi tanpa sorotan pencarian massal terkait finansial. IHSG tetap berada di 6.525,48 (+0,11%) pada pukul 16:20 WIB, tertunda sekitar 10 menit dan bukan penutupan resmi, menunjukkan bahwa aliran modal internal dan eksternal lebih dominan dibandingkan sentimen pencarian. Pergerakan harga lebih dipengaruhi oleh kinerja sektor finance dan tekanan asing di komoditas. Rak pencarian Google yang tidak terkait pasar modal menandakan bahwa hari ini tidak ada krisis finansial atau berita makro yang mendorong warga mencari informasi investasi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang mendorong penurunan DWGL, RGAS, dan TMPO?
DWGL tertekan -14,97% ke Rp 250, RGAS -14,95% ke Rp 165, dan TMPO -14,81% ke Rp 184 pada pukul 16:20 WIB, 31 Agustus 2026. IDX tidak merilis alasan spesifik per emiten, tetapi tekanan terjadi di sektor Energy Minerals, Industrial Services, dan Consumer Services. Data intraday tertunda sekitar 10 menit dan bukan penutupan resmi.
Apakah tekanan asing signifikan mengganggu pasar?
Net asing seluruh pasar tercatat negatif sebesar Rp -423,24 miliar. Meski demikian, dari 400 saham terpantau tercatat 222 saham naik dan 130 turun. Tekanan jual asing tidak menekan IHSG secara keseluruhan, yang berada di 6.525,48 (+0,11%) pukul 16:20 WIB, tertunda sekitar 10 menit.
Bagaimana likuiditas pasar hari ini?
Total nilai transaksi seluruh pasar tercatat Rp 14,33 triliun, dengan nilai transaksi 400 saham teratas mencapai Rp 21,29 triliun. BBCA memimpin nilai transaksi sebesar Rp 1,50 triliun, diikuti CPIN Rp 1,41 triliun dan BBRI Rp 1,15 triliun, menandakan likuiditas tinggi di saham kapitalisasi besar.
Metodologi dan Sumber Data
Data intraday bersumber dari TradingView, data tertunda sekitar 10 menit, yang diambil pada pukul 16:20 WIB, 31 Agustus 2026. Penutupan resmi terakhir adalah 28 Agustus 2026. Data komparatif harga dan nilai transaksi diambil dari ringkasan perdagangan IDX. Google Trends bersumber dari Daily Search Trends geo=ID, 31 Agustus 2026. Data ini hanya menggambarkan kondisi pasar pada saat pengambilan, bukan ajakan investasi.
| Kode | Nama | Harga (Rp) | Perubahan (%) | Nilai Transaksi |
|---|---|---|---|---|
| DWGL | PT Dwi Guna Laksana Tbk | 250 | -14,97% | Rp 15,87 miliar |
| RGAS | PT Kian Santang Muliatama Tbk | 165 | -14,95% | Rp 55,64 miliar |
| TMPO | PT Tempo Inti Media Tbk | 184 | -14,81% | Rp 24,78 miliar |
| TCPI | PT Transcoal Pacific | 2.210 | -9,80% | Rp 82,38 miliar |
| BAPA | PT Bekasi Asri Pemula Tbk | 158 | -9,20% | Rp 10,17 miliar |
| MAPI | PT Mitra Adiperkasa Tbk | 1.400 | -6,35% | Rp 30,55 miliar |
| HRTA | PT Hartadinata Abadi Tbk | 2.210 | -5,15% | Rp 40,58 miliar |
| MPIX | PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk | 112 | -5,08% | Rp 5,45 miliar |
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk informasi umum berdasarkan data pasar real-time dan bukan merupakan ajakan beli atau jual. Investor disarankan melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi. Pasar modal memiliki risiko, termasuk kerugian modal.
Baca juga
- SRSN Melonjak 33,78% ke Rp 99,00 di Sesi 31 Agustus 2026
- IHSG Turun 0,12% Sepekan, Barang Baku Terbaik, EKAD Melesat 34,84%
- RGAS, IMPC, FILM Pimpin Pelemahan, IHSG 6.518,12 (-0,06%)
- BAPA Menguat 19,18% ke Rp 174,00 di Sesi 28 Agustus 2026
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi Bursa Efek Indonesia (IDX) untuk perdagangan 28 Agustus 2026, diolah redaksi Info A1. Artikel disusun otomatis dari data pasar dan ditinjau ulang berdasarkan aturan editorial infoa1.org.
